2017 Merdeka & Hari Malaysia Message

Msia Day Banner

Msia Day Banner

English


Brothers and Sisters in Christ,

As Christians, we are called to be good people, for we have a shared humanity, with one another and with God himself in the person of Jesus Christ. It is this shared humanity that underpins our responsibility for the good of our neighbour, of society, and of the world. This is our Christian hope – that in being good people we will show that God is good because “God has no hands except ours” (St Teresa). So, it is that we must build bridges of peace, unity, and harmony between people of all races and religions.

And nowhere is the call to goodness more urgent than in societies like our own, made up of diverse races and religious affiliations. Our Malaysia will only ever be ours if we love it into being. Today we celebrate 60 years of independence. For many of us, the first exuberant cries of merdeka are something we have only seen in history books and documentaries. The joyful hope of the people of a new nation risks becoming nothing but a relic of the past, as our collective memory fades from generation to generation, and our freedom becomes detached from that first hope. On this auspicious day, it is timely that we reignite the aspirations of our nation’s founding fathers and examine our use of the freedom we have been given. It is ultimately a freedom to love, and together to build a nation through which the love of God flows, to unite all in regard for each person’s God-given dignity, to care for the least among us, and to work in service of each other for the common good. How far have we come these last six decades as a nation and a people?

It is a love that sacrifices self for the good of the other, which prompts us to set aside our personal agendas and the temptation to prioritise selfish desires, in order to build a just society, a nation that favours all over the interests of a few. It is a love that acts first, emboldening us to seek out dialogue and common ground upon which we may build the foundations of national peace, stability, and growth. It is a love that teaches by example, so that future generations, seeing the way we work for good, will never lose sight of our aspirations, and will be equipped with the skills and conviction to continue our work. It is a love that is benevolent, which replaces utilitarian sentiments with those of genuine care, especially for our migrant workers who have joined their hopes to ours and work in often unappreciated ways to help achieve our aspirations. It is a love generous in its giving to those most in need, ensuring that the rewards of growth and development are felt all the way to the margins of society. It is a love that is blind to anything that would tempt us to love less, and recognises the inherent dignity of each individual regardless of race, religion, political affiliation, status, or any of the weak human distinctions by which we divide rather than unite.

As we celebrate the commemoration of these great events in our shared history, Hari Merdeka and Hari Malaysia, let us take the opportunity for a personal examination of conscience: how far do my values and attitudes towards my country and all the people in society reflect the good news of God’s love for me and all mankind? In the words of His Holiness, Pope Francis, to the US Congress in 2015, “Each son or daughter of a given country has a mission, a personal and social responsibility.” Independence means little if we remain enslaved by pride, jealousy, anger, greed, and apathy, which feed the polarisations that are so injurious to unity. Let us look first at the communities that make up our own churches. Do we divide ourselves along lines of race, language, and social and economic background, which are ultimately invisible in God’s eyes? In remedying our own divisions, in love and humility, so that Christ’s prayer may be fulfilled, “that they may all be one” (John 17:21), let us also never forget our mission to our nation, to adopt a multi-pronged approach to building-up society beginning with a change in our own mind-set and attitudes that will effect a change in our behaviour. We must then educate others from the youngest to the eldest in our society and promote efforts that seek unity in the diversity of races and religions that make us uniquely Malaysians.

And may God’s blessings be poured out upon us, that our celebrations may extend well beyond the parades, parties, and public holidays, and become a lived reality that sees us berganding bahu (standing united) in love to build an even greater and more prosperous Malaysia.

SELAMAT MENYAMBUT HARI MERDEKA DAN HARI MALAYSIA! 

 

Most Reverend Julian Leow Beng Kim, D.D.

Archbishop of Kuala Lumpur

President, Catholic Bishops’ Conference of Malaysia, on behalf of:

Most Reverend Simon Poh
Archbishop of Kuching

Most Reverend John Wong
Archbishop of Kota Kinabalu

Rt. Reverend Datuk Cornelius Piong
Bishop of Keningau

Rt. Reverend Datuk Julius Dusin Gitom
Bishop of Sandakan

Rt. Reverend Richard Ng — 
Bishop of Miri

Rt. Reverend Joseph Hii — 
Bishop of Sibu

Rt. Reverend Datuk Sebastian Francis
Bishop of Penang

Rt. Reverend Bernard Paul
Bishop of Melaka - Johor

Bahasa

Pesan para Uskup Katolik sempena Hari Kemerdekaan dan Hari Malaysia 2017


Saudara dan Saudari dalam Kristus,

Sebagai orang Kristian, kita dipanggil untuk menjadi orang yang baik, kerana semua berkongsi kemanusiaan antara satu sama lain dan dengan Tuhan sendiri dalam diri Yesus Kristus. Kemanusiaan yang dikongsi bersama inilah yang menuntut tanggungjawab kita demi kebaikan orang-orang di sekeliling kita, masyarakat dan dunia. Inilah harapan Kristian kita — bahawa sebagai orang yang baik, kita akan memperlihatkan bahawa Tuhan itu adalah baik. Oleh itu, kita mesti membina jambatan perdamaian, perpaduan, dan keharmonian di kalangan semua kaum dan agama.

Dan tidak ada panggilan yang lebih mendesak selain melakukan kebaikan di dalam masyarakat kita sendiri, yang terdiri daripada pelbagai kaum dan gabungan agama. Malaysia hanya akan menjadi milik kita jika kita menyayangi negara ini. Pada hari ini kita merayakan 60 tahun kemerdekaan. Bagi kebanyakan daripada kita, laungan pertama merdeka adalah sesuatu yang hanya dapat kita lihat dalam buku sejarah dan dokumentari. Harapan yang menggembirakan bagi rakyat sebuah negara baru berisiko tidak membawa apa-apa makna melainkan hanya sebagai peninggalan masa lalu, memandangkan ingatan kolektif kita berubah dari satu generasi ke generasi, dan kebebasan kita tidak lagi berkaitan dengan harapan yang mula-mula.

Pada hari yang amat mulia ini, tepat pada masanya bagi kita menghidupkan semula aspirasi bapa-bapa negara kita dan memeriksa semula penggunaan kebebasan yang telah diberikan kepada kita. Pada akhirnya kebebasan untuk mencintai, dan bersama-sama untuk membina sebuah bangsa di mana cinta kasih Tuhan mengalir, untuk menyatukan semua kepentingan martabat insan yang diberikan oleh Tuhan kepada semua orang, untuk menjaga sekurang-kurangnya di antara kita, dan bekerjasama demi kebaikan bersama. Sejauh mana kesatuan kita selama enam dekad ini sebagai bangsa dan rakyat?

Cinta yang mengorbankan diri demi kebaikan yang lain, yang mendorong kita untuk mengetepikan agenda peribadi kita dan menolak godaan yang mengutamakan keinginan mementingkan diri sendiri, untuk membina masyarakat yang adil, sebuah negara yang memberi kebaikan meskipun kepada golongan minoriti. Cinta itu yang menggerakkan kita, memupuk kita untuk mewujudkan dialog dan landasan bersama di mana kita dapat membina asas keamanan, kestabilan, dan pertumbuhan negara. Ia adalah cinta yang diajar melalui teladan, agar generasi akan datang dapat melihat cara kita bekerja dengan baik, tidak akan pernah kehilangan cita-cita kita, dan akan dilengkapi dengan kemahiran dan keyakinan untuk meneruskan karya kita. Ini adalah kasih sayang yang baik, yang menggantikan sentimen mementingkan diri dengan keprihatinan tulus, khususnya bagi pekerja asing kita yang juga mempunyai harapan sama dengan kita dan bekerja mencapai aspirasi kita meskipun usaha sering tidak dihargai.

Kasih yang tulus dalam memberikan kepada orang-orang yang paling memerlukan, memastikan bahawa ganjaran pertumbuhan dan pembangunan dirasakan sampai kepada masyarakat yang terpinggir. Cinta yang buta terhadap apa pun yang akan mendorong kita untuk tidak mementingkan diri dan mengakui martabat setiap individu tanpa mengira kaum, agama, gabungan politik, status, atau apa-apa kelemahan manusia yang membahagikan daripada bersatu .

Dalam kita meraikan perayaan peristiwa penting ini dalam sejarah yang dikongsi bersama, Hari Merdeka dan Hari Malaysia, marilah kita mengambil peluang untuk memeriksa hati nurani kita: sejauh mana nilai-nilai dan sikap saya terhadap negara saya dan semua orang dalam masyarakat menggambarkan berita baik cinta kasih Tuhan bagi saya dan semua manusia?

Seperti kata Bapa Suci kepada Kongres Amerika Syarikat pada tahun 2015, “Setiap anak lelaki atau anak perempuan dari negara tertentu mempunyai misi, tanggungjawab peribadi dan sosial.” Kemerdekaan tidak membawa makna besar jika kita masih diperhamba dengan keangkuhan, iri hati, marah, tamak dan sikap tidak peduli, yang memberi kesan kepada polarisasi yang membawa kemudaratan kepada perpaduan. Marilah kita melihat dahulu pada masyarakat yang membentuk gereja kita sendiri.

Adakah kita membahagi-bahagikan diri kita berdasarkan bangsa, bahasa, dan latar belakang sosial dan ekonomi, di mana semua ini tidak dipandang oleh mata Tuhan? Untuk memperbaiki pembahagi-pembahagi dalam diri kita sendiri, dalam kasih dan kerendahan hati, agar doa Kristus dapat dipenuhi, “supaya mereka semua menjadi satu” (Yohanes 17:21), janganlah juga kita lupa misi kita untuk bangsa kita, untuk mengangkat pelbagai pendekatan demi membina semula masyarakat bermula dengan mengubah cara berfikir dan sikap kita yang akan mempengaruhi perubahan tingkah laku kita.

Kemudian, kita harus mendidik orang lain dari yang termuda kepada yang warga tua dalam masyarakat kita dan menggalakkan usaha-usaha yang mencari perpaduan dalam kepelbagaian bangsa dan agama yang menjadikan kita rakyat Malaysia yang unik.

Semoga berkat Tuhan dicurahkan kepada kita agar perayaan-perayaan ini tidak hanya dibalas atau dirayakan dengan perarakan, majlis dan cuti umum, melainkan menjadi realiti hakiki yang melihat kita berganding bahu dalam cinta demi membina Malaysia yang lebih gemilang dan makmur.

Selamat menyambut Hari Merdeka dan Hari Malaysia!

Reverend Julian Leow Beng Kim, D.D.
Uskup Agung Kuala Lumpur
Presiden, Majlis Uskup-uskup Katolik Malaysia

Bagi Pihak:
Most Reverend Simon Poh
(Uskup Agung Kuching)

Most Reverend John Wong
(Uskup Agung Kota Kinabalu)

Rt. Reverend Datuk Cornelius Piong
(Uskup Keningau)

Rt. Reverend Datuk Julius Dusin Gitom
(Uskup Sandakan)

Rt. Reverend Richard Ng 
(Uskup Miri)

Rt. Reverend Joseph Hii 
(Uskup Sibu)

Rt. Reverend Datuk Sebastian Francis
(Uskup Pulau Pinang)

Rt. Reverend Bernard Paul
(Uskup Melaka-Johor)